Translate

Diberdayakan oleh Blogger.

Join us on Facebook

Side Ads

Cari Blog Ini

My Facebook

.

.

Antara Akal, Nafsu Dan Puasa

Rabu, 20 Juni 2012

Alkisah sebelum Allah swt menciptakan akal dan nafsu yang hendak diletakkan dalam diri Adam alaihissalam terlebih dahulu Allah menguji keduanya agar kelak dikemudian hari Adam dan anak cucunya tahu fungsi dari keduanya, cara menggunakan dan menaklukkan keduanya.
Saat Allah menciptakan akal, Allah bertanya kepada akal: “Siapakah kamu, siapakah Aku ?”
“Saya hamba, Engkau Tuhan.” Jawab akal
Kemudian Allah memerintahkankan akal agar maju ke depan dan mundur ke belakang. Akal mematuhi perintah Allah. Hal ini menunjukkan bahwa akal begitu taat kepada Allah.
“Wahai akal, sesungguhnya Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia ketimbang dirimu” Puji Allah terhadap akal.
Setelah itu Allah menciptakan nafsu. Ketika Allah bertanya kepada nafsu: “Hai nafsu, siapa engkau, siapa Aku ?”
Nafsu menjawab dengan sikap membantah, “Engkau Engkau, aku aku.”
Karena itulah Allah murka kepadanya dan memberikan didikan kepada nafsu agar insaf. Allah memasukkan nafsu kedalam neraka jahannam selama 100 tahun, ia dipukul dan dibakar hingga hangus menjadi arang. Kemudian setelah nafsu dikeluarkan dari neraka, Allah bertanya lagi kepadanya,
“Hai nafsu, siapa engkau, siapa Aku ?”
Nafsu menjawab dengan sikap membantah, “Engkau Engkau, aku aku.”
Nafsu belum sadar akan penciptaannya, Allah perintahkan agar nafsu dipenjarakan selama 100 tahun dengan tidak diberi makan atau pun minum, keadaan nafsu saat itu benar-benar lemah karena lapar dan dahaga. Setelah genap 100 tahun Allah keluarkan nafsu dari ruang tahanan “lapar dan dahaga” Allah bertanya lagi kepadanya,
“Siapa engkau, siapa Aku?”
Setelah semua itu, barulah nafsu mengenal Tuhannya, ia menjawab, “Engkau Tuhan, aku hamba”
Ternyata untuk mengalahkan nafsu yang ada dalam diri manusia tidak perlu dibakar, dipukul melainkan dengan dikarantina dalam penjara “lapar dan dahaga” atau yang kemudian dikenal dengan nama PUASA.
“Sesungguhnya syaitan itu bergerak mengikuti aliran darah, maka persempitlah jalan syaitan dengan lapar dan dahaga.” (HR. Mutafaq ‘Alaih) [1]
Setelah itu Allah memasukkan akal dan nafsu ke dalam diri Adam alaihissalam dan saat Nabi Adam datang ke bumi, keturunan manusia bertambah banyak. Maka peranan nafsu dan akal tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kemungkaran yang terjadi di atas muka bumi ini adalah dari nafsu, bukan dari akal. [2]
Karena akal dan nafsu ada dalam diri manusia, maka terjadilah pertentangan antara keduanya. Peperangan nafsu dan akal tidak pernah ada henti-hentinya. Kadang-kadang nafsu yang menang, kadang-kadang akal yang menang. Buktinya, jika kita berhadapan dengan perbuatan yang baik, maka nafsu akan menolaknya dan mengajak kepada kejahatan sedangkan akal mengajak kepada kebaikan. Kalau kita mengikuti nafsu, artinya kita kalah. Sebaliknya, jika kita mengikuti akal maka kita menang.
Namun bagaimanapun nafsu tetap diperlukan oleh manusia. Bila nafsu musnah, manusia juga akan musnah. Sebagai contoh adalah nafsu makan. Nafsu makan tidak akan hilang karena merupakan fitrah alami manusia. Jika nafsu makan tidak ada, manusia akan mati. Begitu juga dengan nafsu terhadap lawan jenis. Jika nafsu ini tidak ada, maka manusia tidak akan berketurunan.
Pernah seorang sahabat datang kepada Rasulullah dan memberitahukan bahwa ia ingin membunuh nafsunya agar ia dapat bersungguh-sungguh berjuang. Tetapi Rasulullah melarang karena Rasulullah sendiri juga berumah tangga dan beliau menyukai jika umatnya mempunyai keturunan yang banyak. Pernah juga ada seorang sahabat yang mengatakan kepada Rasulullah bahwa ia ingin berpuasa terus menerus agar dapat lebih berbakti kepada Allah. Rasulullah juga melarangnya karena Baginda sendiri juga berpuasa dan berbuka. Rasulullah juga tetap bermasyarakat dan berjuang untuk menegakkan kehidupan di dunia dan dan Akhirat. Jadi, Rasulullah memberi jalan tengah. Nafsu ini tetap diperlukan untuk manusia. Akan tetapi, jangan sampai salah langkah sehingga membawa kita ke Neraka. Rasulullah bersabda tentang nafsu ini,
“Ada dua lubang yang dapat menyebabkan seseorang masuk ke Neraka, yaitu lubang faraj dan lubang mulut.” (Riwayat Tirmidzi) [3]
Nafsu juga dapat kita jadikan kuda untuk ke Syurga. Sebagian orang jika mendengar kata nafsu, hanya terbayang hal-hal yang jahat saja. Sedangkan nafsu itu adakalanya jahat, adakalanya baik. Nafsu akan menjadi baik jika dilatih. Imam Al Ghazali mengibaratkan nafsu itu sebagai anjing, jika dilatih akan menjadi baik. [4]
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
§  Setiap sesuatu memiliki alat dan mesin, alat orang-orang mukmin adalah akalnya
§  Setiap sesuatu memiliki kendaraan, kendaraan orang-orang mukmin adalah akalnya
§  Setiap sesuatu memiliki tiang penyangga, tiang penyangga agama adalah akal
§  Setiap kaum memiliki bendera, benderanya hamba-hamba Allah adalah akalnya
§  Setiap kaum memiliki penyeru, penyeru orang-orang ahli ibadah adalah akalnya
§  Setiap pedagang memiliki harta dagangan, harta dagangan para Mujtahid adalah akalnya
§  Setiap keluarga memiliki nilai, nilai keluarga orang-orang jujur adalah akalnya
§  Setiap kehancuran terdapat pembangunan, pembangunan akhirat terletak pada akal
§ Setiap seseorang memiliki kesudahan yang membuatnya dikenang dan diingat, Kesudahan yang membuat dikenang dan diingat orang-orang jujur terletak pada akalnya
§ Setiap orang bepergian memiliki tenda menginap, tenda orang-orang mukmin adalah akalnya. (HR. Ibnu Mujbir dan alHarits). [ Ihyaa’ I/84-85 ].
Ya Ilahi, Jadikan selalu akalku sebagai pemenang dalam mengalahkan nafsu yang selalu menuntunku durhaka terhadap-Mu, jadikan RAMADHAN ini sebagai sarana untuk melunakkan nafsuku demi menggapai Ridho-Mu dan sarana kembali mengenal-Mu.. Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin...
Catatan ini di buat pada 03 Agustus 2010 jam 10:48 dan alhamdulillah banyak menyebar di internet...^^

1. Disebutkan dalam Kitab Ihya’ I/232, Berkata al-‘Iraaqy “Hadits ini riwayatnya mutafaq ‘alaih dari Shafiyyah kecuali pada kalimat maka persempitlah jalan syaitan dengan lapar dan dahaga, ini landasan kalangan sufi.
2. Hikayah terdapat pada kitab Durrah an-Naashikhiin Hal. 13
3. Ibnu Maajah menganggap shahih hadits ini dari riwayat Abu Hurairoh (Ihyaa’ ‘Uluumiddin III/109)
4. Ihyaa’ ‘Uluumiddin III/173

Lagi Pengen Nulis Aja...

Senin, 21 Mei 2012


Kawan…

Sebagai mahluk yang serba kurang, sepantasnyalah jika senantiasa meluapkan panjatan puji dan syukur yang tiada terhingga pada Yang Maha Sempurna, Allah Subhanahu Wa ta’ala. Dialah yang telah menganugerahkan sebagian dari bias-bias kesempurnaan_Nya melalui makhluk teragung, paling sempurna diantara yang pernah tercipta. Dialah Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam sang perombak peradaban dunia dengan aturan-aturan serta kajian-kajian yang takkan pernah terbantahkan sampai kapanpun juga. Suatu aturan serta kajian yang bernuansakan wahyu ilahiyyah.

Semoga sholawat serta salam senantiasa terlimpahkan atas Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan keluarga serta Sahabat-sahabatnya Radliyallahu Anhum Ajma’ien, Amien.

Kawan…

Setiap orang diciptakan dalam keadaan bebas_merdeka, terlepas dari segala tuntutan dan tekanan_pressure dari pihak manapun. Mereka sendirilah yang seringkali menjadikan diri meraka diperbudak oleh pihak lain (dunia_segala sesuatu selain Allah). Entah apa yang melatar belakangi hal ini, mereka dengan senang hati dan bangga diri menobatkan diri sebagai budak dunia yang dengan begitu mudahnya diombang-ambingkan kesana kemari.

Mungkin, kalau saya boleh bilang.. penyebab dari semua itu adalah kosongnya hati serta pikiran meraka dari pengetahuan tentang agama_islam yang dengannya seseorang akan memiliki bobot yang tinggi sehingga takkan mudah tergoyahkan oleh terpaan taufan dunia.

Dengan tertanamnya nilai-nilai agama di dalam hati yang senantiasa dipupuk dengan kajian-kajian ilmiyyah melalui jalur-jalur diskusi, musyawarah, pengajian ta’lim dan sebagainya, maka akan terwujudlah pribadi yang tangguh, tahan banting dan siap untuk mengemban amanah dan tanggung jawab penciptaan yang utama, yaitu menjadi khalifatullah fil_ardl (para pengemban amanat Allah dalam mengatur dunia).

Oleh sebab itulah dalam Blog ini saya ingin sedikit berbagi pengetahuan serta pengalaman demi tegaknya agam Allah di muka bumi ini, sebagai bentuk tanggung jawab moral ats sabda Rasulullah Shallallahu Alihi Wa Sallam :

بَـلّغُـوْا عَـنِّـي وَلَـوْ آيَـةً . . . .

“sampaikanlah oleh kalian apa-apa yang datang dariku meski hanya satu ayat… “

Juga termotivasi oleh sabda Beliau yng lain :

مَـنْ دَعَـا إِلَى هُــدًى كَانَ لـَهُ مِـنَ الأَجْـرِ مـِثْـلُ أُجُـورِ مَـنْ تَبِـعَـهُ لا يَنْـقُـصُ ذَلـِكَ مِـنْ أُجُـورِهِـمْ شَـيْـئًا

“siapa saja yang mengajak kepada petunjuk (agama Allah) maka baginya bagian pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa berkurang sediktpun”.

Wallaahu Yuwaffiqunaa ilaa Sawaa’is Sabiel, Amien.

Adaptasi Kemaksiatan

Sabtu, 21 April 2012

Ini kisah yang cukup populer. Saya pertama kali mendengarnya sekitar tahun 2003 di sebuah kampus di Surabaya. Ijinkan saya untuk menyampaikannya kembali bagi Anda.

Alkisah, ada seorang ilmuwan ingin mengadakan eksperimen. Untuk itu ia harus merebus seekor katak hidup-hidup. Ia pun menyiapkannya. Diambilnya sebuah panci, diisinya dengan air secukupnya lalu diletakkan di atas tungku. Dengan sabar ia menunggu hingga air mendidih. Air pun mendidih lalu diambillah si katak malang, lalu dimasukkanlah katak tersebut ke air yang tengah mendidih tersebut.

Namun apa yang terjadi? Si katak yang merasakan suhu yang berubah drastis kontan sigap. Ia kaget, ia tanggap, katak pun kontan melompat keluar dari panci. Si Katak kali ini selamat.

Namun si ilmuwan yang gagal dengan percobaan pertamanya tak kehilangan akal. Kali ini ia menyiapkannya dengan cara yang berbeda.

Diambilnya lagi sebuah panci yang lain, dan sama seperti sebelumnya, ia isi dengan air lalu ia letakkan ke atas tungku. Namun sebelum ia nyalakan tungkunya, dengan air dalam kondisi masih dingin, ia masukkan si katak ke dalam panci. Si katak yang memang biasa dengan air, pun merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisi ini, toh hitung-hitung mandi berendam. Si ilmuwan pun menyalakan tungkunya, namun kali ini apinya kecil saja agar air tak cepat mendidih.

Perlahan namun pasti air dalam panci pun menjadi kian hangat. Namun si Katak masih nyaman-nyaman saja, “sekalian mandi air hangat” begitu pikirnya. Namun air pun kian menghangat, dan menghangat, si katak masih merasa nyaman dan aman. Hingga satu titik, ketika air sudah mulai sangat panas, kali ini si katak sudah tak tahan, ia mencoba melompat. Namun sayang, kali ini ia tak bisa. Air sudah terlalu panas dan si katak sudah terlalu lemah. Akhirnya si Katak pun mati, terebus bersama air panas tersebut.

Sadar atau tidak, adakalanya kita menemukan orang-orang yang menjadi katak ini. Atau jika mau jujur bercermin, boleh jadi kita-lah katak tersebut. Ketika seorang shalih diajak untuk bermaksiat terang-terangan sudah pasti ia akan menolak. Namun syaithan sungguh cerdas, alih-alih langsung terang-terangan, setan akan mendekatinya dengan perlahan-lahan, membuainya hingga terasa aman, nyaman, menjadi kebiasaan, hingga akhirnya yang ada hanyalah penyesalan. Sadar atau tidak, si shalih telah beradaptasi terhadap kemaksiatan.

Jika api besar dan air mendidih adalah dosa besar, maka api kecil adalah dosa-dosa kecil yang kita biarkan, yang kita anggap biasa, lumrah, wajar, atau bahkan kita merasa nyaman-nyaman saja dengannya. Sebagaimana air hangat yang melenakan, pelan namun pasti dosa kecil kian memanaskan kita hingga suhu yang membinasakan.

Terlebih manusia sering meremehkan ha-hal yang ada embel-embelnya “kecil”, batu kecil, uang kecil, anak kecil, dan termasuk pula dosa kecil. Sehingga tak jarang kita pun tak ambil pusing dengan dosa-dosa kecil yang kita perbuat. Jangankan taubat, istighfar pun seolah tak sempat. Kita merasa aman, kita nyaman, padahal ini strategi jitu syaithan yang menyesatkan,

Maka benarlah Rasulullah yang mengajak kita untuk mewaspadai dosa-dosa kecil. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad Rasulullah bersabda, “Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil. Hal itu tidak ubahnya seperti sekelompok orang yang turun ke sebuah lereng gunung. Mereka masing-masing membawa sebatang ranting kayu sehingga dengan ranting-ranting kayu itu bisa mereka masak roti. Dosa-dosa kecil kapan saja di lakukan oleh seseorang ia akan menjadi celaka”.

Karena memang dosa kecil yang dibirkan ibarat titik kecil yang ditoreh dia atas kertas. Satu titik memang tak ada apa-apanya dibandingkan luasnya putih kertas. Namun jika ditorehkan berkali-kali , dan berkali-kali, tanpa henti, tanpa pernah kita menghapusnya, pada akhirnya kita pun merasa asing dengan warna putih kertas semula. Maka lihat, apa yang kita anggap sepele, satu titik hitam di kertas putih, namun jika diteruskan maka putihnya kertas kan berubah menjadi hitam.

Inilah cerdasnya syaithan, tak diajaknya seorang ustadz untuk langsung berzina, diajaknya ia untuk sekedar memandang sambil berkata “toh ini cuman memandang”, berlanjut saling SMS-an dengan perkataan yang sama “toh cuma SMS”, berlanjut memberi perhatian, pertemuan, pegang tangan, pacaran dan seterusnya sampai terjadilah zina. Sampai disinipun adakalanya timbul kerasnya hati, “toh nanti bisa bertaubat”. Bahkan ampunanNya pun kini dianggapnya remeh.

Tak diajaknya seorang muslim untuk langsung murtad. Dihembuskannya sedikit demi sedikit apa yang menarik hatinya, bisa lawan jenis, jabatan, kedudukan, harta, atau hal-hal non materi seperti jaminan, kebebasan ataupun kemenangan. Dibuatlah sedikit demi sedikit apa yang bertentangan dengan agama menjadi indah, dan kita pun terpesona dengannya. Disisi lain ditampakkanlah agamanya dengan sesuatu yang buruk-buruk, dianggap kuno, nggak gaul, radikal, teroris. Dibuatlah kita membenci apa yang selama ni kita yakini, di awal kita mendiamkan teman yang menjelek-jelekkan agama, esoknya kita lah yang membelanya, bahkan menggantikannya berbicara hal sama. Dibuatlah ucapan soal Tuhan, Surga dan Neraka adalah dongeng khayalan orang terdahulu, tanpa sadar kita pun mengangguk-angguk. Pelan tanpa pasti, sadar atau tidak, akidah itu pun lepas begitu saja.

Sebagaimana saya, boleh jadi Anda pun menemuinya di sekitar kita. Ada teman yang dahulunya ketua rohis, kini berubah layaknya preman. Ada yang dahulunya begitu aktif ikut pengajian, kini alergi dengan hal-hal keislaman. Ada yang dahulu begitu rapat ia menutup aurat, kini begitu nyaman ia buka-bukaan. Bahkan ada pula yang dahulu ikut sholat dengan khusyuknya, namun kini berpindah agama, menyembah selain Allah yang Esa.

Dan begitulah cara syaithan menyesatkan anak adam. Sebagaimana kisah katak yang direbus, begitulah manusia dijerumuskan perlahan-lahan, begitu sadar semuanya sudah terlambat. Luka fisik, rasa, isak tangis, penjara, hamil luar nikah, ataupun cacat seumur hidup sungguh masih tak ada apa-apanya dibanding panasnya nyala neraka akibat tiadanya taubat. Sesal di dunia masih ada obatnya, sesal di akhirat hendak kemana kita lari dari siksaNya?

Maka sebelum terlambat, sudah saatnya kita bangun, tanggap, sadar, dan segera melompat dari panci dosa-dosa kecil, sebelum panasnya membuat kita kian terlena, lalu binasa. Mengutip nasehat sahabat saya, pada akhirnya kita harus sadar bahwa ini bukan soal besar kecilnya sebuah maksiat, namun yang terpenting ialah, kepada siapa kita bermaksiat?



Sumber
http://www.kisahinspirasi.com
 
Powered by Telu Wolu 38

Most Reading

Jadwal Waktu Sholat