Translate

Diberdayakan oleh Blogger.

Join us on Facebook

Side Ads

Cari Blog Ini

My Facebook

.

.

Gagal Itu Biasa, Tapi Jangan Takut Untuk Mencoba

Jumat, 12 Juni 2015

Kita tahu semua orang memandang rendah terhadap orang yang gagal, memandang sebelah mata terhadap ‘’mereka yang terpuruk”. Gagal dianggap sebagai pantangan, mengukur seseorang melalui prestasi yang diraih, menilai tinggi kesuksesan dan menilai rendah terhadap kegagalan. Memuji-muji mereka yang sukses dan mencemooh, menghina bahkan memandang rendah mereka yang gagal. Sehingga gagal dianggap sebagai aib yang haram terjadi.

Benarkah seburuk itu kegagalan?

Tidakkah kita membaca… Kenyata’anya, dalam kehidupan ini banyak tokoh-tokoh besar, tak terkecuali para Rasul yang dibekali dengan berbagai kelebihan terlahir dan dikenal setelah mereka digembleng oleh berbagai kegagalan. Bahkan semakin banyak mereka gagal semakin hebat mereka sesudahnya.
Terus… masihkah kita takut mengalami kegagalan jika kegagalan itu adalah jalan menuju kesuksesan???.

Teringat sebuah kata bijak, “hanya layang-layang yang berani menantang laju angin yang mampu terbang tinggi”.

Pada dasarnya semua orang beranggapan penting menang terlalu dibesar-besarkan sehingga lupa bahwa sesungguhnya dengan kegagalan kita akhirnya menjadi pemenang yang unggul.
Nah, kalau begitu kenapa kita mesti takut gagal jika kegagalan adalah step yang mesti kita lalui dalam proses mencapai kesuksesan.

Oh salah ..., lebih tepatnya “kesuksesan sejati”, karena kita lebih tahu secara komplek mengenai kesuksesan yang telah kita raih, bukan sekedar sukses, tapi kita juga mendapatkan pelajaran dari kegagalan yang kita alami sebelumnya.

Seringkali orang-orang memandang orang yang sukses dari segi suksesnya saja tanpa tahu liku-liku di balik perjalanan menuju kesuksesan itu. Padahal di balik kesuksesan seseorang terdapat seribu kegagalan yang dia alami sebelum akhirnya menuai kesuksesan.

“Orang yang ‘sukses’ sebenarnya lebih banyak mengalami kegagalan dari pada orang yang ‘gagal’, hanya karena mereka lebih banyak mencoba dari pada orang yang tidak sukses”. Ya begitulah sebenarnya apa yang terjadi, selalu mencoba dan mencoba. Gagal bukanlah sebuah akhir perjuangan melainkan gagal adalah pelajaran dari awal perjuangan kita yang lebih cerdas. Jadi, jika kita ingin menjadi sesuatu maka kita harus bersedia melakukan apa yang dibutuhkan untuk menjadi sesuatu itu.

// hanya layang-layang yang berani menantang laju angin yang mampu terbang tinggi //

Setiap orang minimal harus pernah gagal sekali. Semakin parah kegagalan, semakin besar peluang meraih kesuksesan di kemudian hari. Tapi jika kita tidak berani mengambil resiko kegagalan, ada satu cara mengelak dari keterpurukan akibat kegagalan. “Jangan menjadi apa-apa dan jangan berbuat apa-apa, bunuh semua cita-cita”. Solusi ini terbukti dan telah teruji tak pernah gagal.

Kalau begitu, masihkah ada alasan bagi kita untuk takut akan kegagalan ?. Jangan berhenti untuk terus mencoba, karena kita tak akan pernah tahu hasilnya sampai kita mencobanya. Seperti kata Iwan Fals, “Jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh”.

Balik lagi, kegagalan bukanlah sebuah akhir dari perjalanan hidup kita, melainkan awal dari perjuangan hidup kita yang lebih cerdas. Kesuksesan itu telah ada di hadapan kita, tinggal kita mau meraihnya apa tidak.

Adakah Yang Lebih Penting ..???

Ketidaktahuan akan masalah agama nggak semuanya merupakan hal yang bisa ditolerir,,
Sangatlah tepat jika ada yang mengatakan “orang yang bodoh adalah musuh bagi dirinya sendiri” so, orang yang jernih akalnya akan selalu mendahulukan perkara-perkara terpenting diantara yang penting… maka cobalah kita bertanya pada diri kita.. “ADAKAH YANG LEBIH PENTING DARI MENUNTUT ILMU AGAMA..???
Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,

إنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Sementara kita jelas-jelas ingin menjadi yang terbaik-yang dipandangNya, dengan cara memperjuangan sifat diri dalam penghambaan kepadaNya melalui “CARA-CARA YANG TELAH DITENTUKANNYA” demi untuk meraih taqwa yang didamba. Nah,, untuk meraih taqwa jalan satu-satunya tentunya dengan mempelajari ilmu agama,,
Lha bagaimana bisa taqwa kalau Nggak ngerti halal-haram, Nggak bisa bedakan yang wajib dan yang sunnah, Nggak ngerti perkara yang manfaat dan yang membahayakan agamanya…??? It’s a IMPOSSIBLE strength…

Kita sama-sama ngerti bahwa ilmu agama adalah ilmu yang punya keutamaan yang begitu besar untuk dipelajari, maka kita mesti terus memupuk rasa semangat dalam diri kita sehingga tidak kendor. Lantas, bagaimana caranya..???
Coba kita perhatikan bagaimana teladan ulama dalam hal semangat belajar ini;
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَتَعْجِزْ

Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan menjadi orang yang lemah (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664).

Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan.” (Syarh Shahih Muslim, 16 : 194).

Dalam hadits di atas disebutkan ada tiga cara yang dapat kita pahami agar semangat kita dalam belajar tidak kendor, yaitu:
1- Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya.
2- Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut.
3- Tidak patah semangat untuk meraih tujuan.
Mari kita lihat beberapa perkataan ulama salaf yang menunjukkan semangat mereka dalam belajar.
Al Junaid rahimahullah berkata :

مَاطَلَبَ أَحَدٌ شَيْئاً بِجِدٍّ وصِدْقٍ إلاَّ نَالَهُ، فَإِنْ لَمْ يَنَلْهُ كُلَّهُ نَالَهُ بَعْضَهُ

“Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya,  jika tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.”

Lihat saja bagaimana semangat para ulama. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal masih usia belia, terkadang beliau sudah keluar menuju halaqoh para ulama sebelum Shubuh. Ibunya saat itu mengambil bajunya dan mengatakan –sebagai tanda sayang pada Imam Ahmad-, “Tunggu saja sampai suara adzan dikumandangkan atau tiba waktu Shubuh.”

Coba perhatikan, Imam Ahmad sebelum Shubuh saja sudah bersiap-siap untuk belajar, sedangkan mata kita saat itu masih sulit untuk bangkit dari tidur yang nyenyak!
Lihat pula bagaimana semangat Al Khotib Al Baghdadi ketika membaca kitab Shahih Al Bukhari hingga tuntas pada gurunya Isma’il Al Hiriy dalam tiga kali majelis. Bagaimana majelis tersebut? Majelis pertama dan kedua dibacakan kitab shahih tersebut mulai dari Maghrib hingga Shubuh. Majelis ketiga, shahih Bukhari dibacakan dari waktu Dhuha hingga Maghrib dan dilanjutkan terus hingga terbit fajar Shubuh.

Lihat pula semangatnya Abu Muhammad bin At Tabban dalam awal-awal belajar. Ia ketika itu belajar dalam seluruh malam. Karena begitu sayang, ibunya sampai melarang ia membaca di malam hari seperti itu. Caranya agar bisa terus belajar, Abu Muhammad mengambil lampu dan diletakkan di bawah baskom sehingga dikira dirinya sudah tidur. Jika ibunya telah tidur, ia mengambil kembali lampu tersebut dan ia melanjutkan belajarnya di malam hari.

Subhanallah! Luar biasa semangat Abu Muhammad rahimahullah dalam belajar. Bagaimana dengan kita yang terus malas-malasan bahkan mungkin tidak pernah mengenal begadang (saharul-layaali) dalam menimba ilmu agama Islam?

Ibnu ‘Aqil ketika usianya mencapai 80 tahun, ia bersenandung:

Semangatku tidaklah luntur di masa tuaku,
Begitu pula semangatku dalam ibadah tidaklah usang.
Walau terdapat uban di rambut kepalaku, namun tidak melunturkan semangatku.
Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus semangat dalam belajar.

Masih banyak cerita-cerita dari mereka para ulama yang begitu gigih dan tak pernah patah semangat dalam menimba ilmu agama. Namun, cukup kiranya sedikit cerita di atas dapat menggugah semangat kita untuk terus dan terus megkaji dan mendalami ilmu agama, meskipun di luar sana banyak sekali yang mencibirnya. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih mengenalNya agar apa yang kita idam-idamkan terlaksana, yaitu menjadi sosok yang bertaqwa kepadaNya.

اللّهُمّ أَرِنَا الحَقَّ حَقًّا وارْزُقْنَا اتِّباَعَهُ، وأَرِنَا الباَطِلَ بَاطِلاً وارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ ولَا تَجْعَلْهُ عَلَيْناَ مُتَشَابِهاً فَنَتَّبِعَ الهَوَى

Wallallahu a’lam bishsshowab,

10 Alasan Perempuan Hobi Baca Buku Layak Dijadikan Istri

Senin, 25 Mei 2015

Buat laki-laki yang sedang mencari calon istri, tak ada salahnya menjadikan hobi membaca sebagai salah satu kriteria selain cantik dan salihah. Bukan kenapa-napa sih, perempuan yang akan kalian nikahi itu kan calon ibu bagi anak-anak. Lha kalau ibunya sendiri tak suka membaca, lalu model anak bagaimana yang akan dihasilkan kelak ???.
Di bawah ini ada 10 alasan mengapa perempuan yang memunyai hobi baca itu sangat pantas dan layak dijadikan istri. Yuk... mari disimak...

1.  Nggak manja
Dia menikmati waktunya bersama buku, bukan tipe yang sedikit-sedikit nyari suaminya  sekadar untuk menemani. Ketika suami harus lembur pun, dia gak akan mati gaya bingung mau ngapain di rumah sendirian. Buku adalah temannya dalam menanti suami di rumah. Memang sih, ketika dia keasikan membaca buku, ada kalanya suami merasa diabaikan. Habis, konsentrasi penuh ke buku sih. Tapi ini nggak lama kok. Bakti ke suami tetap nomor satulah, namanya juga perempuan salihah.
2.  Mempunyai rasa empati yang tinggi
Penelitian membuktikan bahwa mereka yang hobi membaca karya fiksi (novel dan cerpen) mempunyai rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Itu karena bacaan novel dan cerpen berisi berbagai macam karakter dan pembaca diajak ikut larut di dalamnya. Situasi ini membuat pembaca memahami masing-masing karakter di dalam novel baik masalahnya maupun cara menyelesaikannya.
3. Tipe yang kritis
Perempuan yang hobi membaca adalah tipe yang asik untuk diajak ngobrol dan berpikir dalam menyelesaikan masalah yang mungkin timbul dalam pernikahan. Kemampuan menganalisis masalah kuat sehingga menghasilkan solusi yang insya Allah cemerlang.
4. Mudah membuatnya bahagia
Bila ingin jalan-jalan, ajak saja dia ke toko buku dan biarkan ia memilih buku favoritnya. Ingin memberinya hadiah? Buku lebih dicintainya daripada perhiasan mahal lainnya. Selain mudah juga murah, kan? Meskipun bila dikasih berlian dia juga makin bahagia sih hehehe.
5. Wawasannya luas
Karena wawasan yang luas, suami dan anak-anak kelak bisa bertanya apa saja padanya. Bahan bacaan yang banyak membuatnya kaya kosakata. Ia sangat pantas menjadi guru bagi anak-anaknya, madrasah pertama dan utama bagi generasi.
6. Daya imajinasinya tinggi
  Seseorang yang berdaya imajinasi tinggi tampil menarik. Ia akan memunyai banyak terobosan baru dalam kehidupan rumah tangga agar tak terasa menjemukan.
7.  Pendengar yang baik
Seseorang yang mampu membaca banyak buku terutama novel dengan berbagai macam cerita di dalamnya biasanya mampu juga menjadi pendengar yang baik bagi suami yang memunyai kisah hidup di balik sosoknya yang tangguh.
8.  Ingatannya tajam
Hobi membaca membuat ingatan seseorang menjadi tajam. Ia mudah mengingat hal-hal kecil yang biasanya dilupakan pria atau suami. Tanggal pernikahan, hari lahir anak, sesuatu yang disukai atau dibenci suami, dll.
9. Mudah bersosialisasi
 Penggemar buku biasanya gemar pula bertemu dengan banyak orang untuk bersosialisasi. Misalnya gabung dengan klub buku, menghadiri diskusi bedah buku dan semacamnya. Ia menjadi sosok yang supel dan banyak teman.
10.Di antara semua poin di atas, beristrikan penggemar buku yang cinta membaca membuat suami ketularan hal positif. Daripada waktu luang untuk bengong atau bingung mau ngapain, buku bisa dijadikan solusi kegiatan untuk berdua. Selain bertambah wawasan, cinta pun semakin merekah karena banyak kejutan baru yang ditemukan dalam buku. Tidak percaya? Coba saja!

Wah...ternyata banyak juga ya sisi positif memunyai pasangan/istri yang cinta buku dan membaca. Siap-siap bagi yang akan atau sedang taaruf untuk memasukkan kriteria ini dalam mencari pasangan. Untuk yang sudah terlanjur, tak ada salahnya mulai menggiatkan cinta buku dan membaca di dalam keluarga masing-masing. Bukankah Allah meninggikan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat sebagaimana dalam firmanNya QS. Al Mujadalah: 11? Jadi tunggu apalagi.... hehe..

Koma Dan Titik

Kamis, 21 Mei 2015

Kehidupan ini saya ibaratkan sebagai untaian kata-kata yang terangkai dalam satu kalimat. Sebuah kalimat, tentunya akan membentuk berbagai macam arti, disaat kita meletakkan tanda koma dan titik di dalamnya. Tentunya kita akan senantiasa berupaya untuk dapat membentuk suatu kalimat kehidupan yang memiliki makna yang dalam. Namun bagaimana kita dapat membentuk kalimat tersebut ?
Sebelum mengulas lebih lanjut, ada baiknya kita memahami dahulu apa fungsi dasar dari koma dan titik itu. Salah satu fungsi dari koma itu adalah sebagai penghubung kalimat, menandakan tempat jeda sesaat dari suatu kalimat. Jadi ketika kita berbicara tentang koma, tentunya tidak lepas dari hal-hal yang bersifat fleksibel. Dalam kehidupan, saya ibaratkan koma itu adalah suatu harapan, peluang, dan bisa juga suatu alasan. Selayaknya harapan, padanya masih terbuka kesempatan berpikir dari banyaknya kemungkinan dan kesempatan untuk merancang atau melanjutkan langkah kedepan.
Sedangkan titik, salah satu fungsinya adalah sebagai tanda berakhirnya suatu kalimat. Jadi titik tentunya sangat berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya lebih pasti dan biasanya menjadi akhir dari suatu kesimpulan. Di dalamnya tidak ada keraguan, tanpa ada kebimbangan, hanya ada kepastian.
Layaknya kehidupan ini, sepantasnyalah kita terus berupaya dan berjuang dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Tak pernah ada manusia yang sempurna, yang ada hanyalah manusia yang senantiasa "berproses" untuk mengarah ke arah kesempurnaan. Maka jangan pernah berhenti dalam satu titik, ketika kita belum yakin dengan apa yang kita perjuangkan. Jangan pernah berhenti pada satu titik, ketika kita belum cukup mampu membuktikan apa yang ingin kita buktikan. Tak perlu takut tuk menempatkan beberapa koma, jika memang itu dibutuhkan demi mencapai suatu titik.
Maka, tempatkanlah dengan tepat beberapa koma dalam kalimat kehidupanmu. Dipastikan kalimat kehidupanmu akan berakhir pada satu titik yang penuh makna. Namun di saat kita keliru dalam menempatkannya, dipastikan kalimat kehidupanmu akan berakhir pada sebuah titik yang penuh kehampaan. Salam... 

Wanita Itu Mutiara

Rabu, 07 Januari 2015

Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him.
Kedengarannya agak gimana… gitu, tapi yeach… begitulah kenyataannya. Wanita memang demikian adannya.
Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita?
Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan “bangga” nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula (Insya Allah). Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi ‘pangeran’.
Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah Ibu dan saudara-saudara saya yang ‘kebetulan’ kebanyakan adalah wanita.
Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat mengecewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya.
Meski demikian, tidak sedikit pria ‘harus membiarkan wanita kecewa’ demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.
Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.
Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.
Wanita itu separuh dari jiwa yang hilang. Maka orang harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti, melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa. Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian. Ia tak akan bisa menyamakan langkah, selalu bertolak pandang sehingga tak memberikan kenyamanan dan keserasian. Ia tak mungkin menjadi satu hati meski seluruh daya dikerahkan untuk melakukannya. Dan yang jelas ia tak bisa menjadi cermin diri disaat lengah atau larut.
Wanita memiliki kekuatan luar biasa yang tak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik. Yakni kekuatan cinta, empati dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya membangkitkan mereka yang jatuh dan kesetiaannya tak lekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan.
Dan wanita adalah sumber kehidupan. Yang mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan baru, yang dari dadanya dialirkan air susu yang menghidupkan. Sehingga semua pengorbanannya itu layak menempatkannya pada kemuliaan surga, juga keagungan penghormatan.
Tidak berlebihan pula jika Rasulullah menjadikan seorang wanita (Fathimah) sebagai orang pertama yang kelak mendampinginya di surga.
Untung saya bukan penyanyi ngetop yang menjadikan wanita dan cintanya sebatas syair lagu demi meraup keuntungan. Sehingga yang tampak di mata hanyalah wanita sebatas bunga-bunga penghias yang bisa dicampakkan ketika tak lagi menyenangkan. Kebetulan saya juga bukan bintang sinetron yang kerap diagung-agungkan wanita. Karena kalau saya jadi mereka, tentu ‘kebanggaan’ saya dikelilingi wanita cantik bisa berbeda makna dengan kebanggaan saya sebagai seorang yang bukan siapa-siapa.
Bagusnya juga wanita-wanita yang mendekati dan mengelilingi saya bukanlah mereka yang rela diperlakukan tidak seperti bunga, bukan selayaknya mutiara dan tak selembut sutra. Bukan wanita yang mencampakkan dirinya sendiri dalam kubangan kehinaan berselimut kemewahan dan tuntutan zaman. Tidak seperti wanita yang rela diinjak-injak kehormatannya, tak menghiraukan jerit hatinya sendiri, atau bahkan pertentangan bathinnya. Juga bukan wanita yang membunuh nuraninya sendiri sehingga tak menjadikan mereka wanita yang pantas mendapatkan penghormatan, bahkan oleh buah hatinya sendiri.
Dan sudah pasti, selain tak ada wanita-wanita macam itu yang akan mendekati lelaki bukan siapa-siapa seperti saya ini, saya pun tentu tidak akan betah berlama-lama berdekatan dengan mereka, apalagi bangga. Semoga !!!

PDKT Via Sosmed (Hp, Fb, twitter, dsb.)

Kamis, 20 November 2014

Manusia adalah makhluk sosial yang mendambakan hidup damai dan harmonis. Adalah normal jika manusia mengalami ketertarikan dengan lawan jenisnya. Motivasi untuk bisa mengenal karakter, menyamakan pandangan hidup dan motif-motif lainnya, seringkali dijadikan dalih pembenaran untuk melakukan pacaran, bahkan beberapa pihak ada yang sedikit peduli dengan kelestarian norma etik-sosial sehingga merumuskan konsep “Pacaran Islami”.

Cinta dalam Islam tidak dilarang, karena ia berada diluar kendali manusia. Dalam Al-Quran disebutkan:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita (Q.S Ali-Imran 14)
Redaksi ayat diatas menjelaskan bahwa dalam diri manusia telah ditanam benih-benih cinta yang yang sewaktu-waktu bisa tumbuh ketika menemukan kecocokan jiwa. Bahkan, cinta merupakan anugrah yang harus disyukuri dengan mengekspresikan dan membinanya sesuai dengan norma syari’at. Islam dengan universalitas ajarannya telah mengatur hubungan manusia baik secara vertikal maupun horizontal, tak terkecuali hubungan antara dua muda-mudi yang sedang dirundung asmara.

Diakui atau tidak, rasa cinta dapat mendorong terhadap perubahan perilaku seseorang yang sedang dilandanya. Bahkan terkadang dapat memotifasi terhadap tingkah laku buruk (tidak sesuai dengan syari’at). Seribu cara ia lakukan demi mewujudkan keinginannya. Disisi lain, terkadang ada seseorang merasa sulit untuk mengungkapkan isi hatinya. Akhirnya, Atas nama cinta, perasaan yang selalu terpendam diungkapkan melalui via SMS atau facebook atau jejaring sosial lain yang sejenis.
Bagaimana Islam mengatur hubungan sepasang remaja yang sedang dilanda asmara? Adakah konsep “Pacaran Islami” dalam tradisi Islam? Bolehkah PDKT via HP, facebook dan lain sebagainya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Marilah kita simak uraian singkat dibawah ini!

Definisi Pacaran

Istilah “pacaran” secara harfiah tidak pernah dikenal dalam tradisi Islam. Secara umum, tidak cukup kiranya jika kata “pacaran” hanya didefinisikan dengan pertemanan, berduaan ditempat yang sepi, atau diartikan dengan makan jagung berduaan, nonton bareng, ngobrol atau apel setiap malam minggu kerumah sang kekasih. Kata “pacaran” lebih tepat jika diartikan dengan hubungan kemesraan antara dua sejoli yang saling memadu kasih. Sebab konotasi dari kata ini lebih mengarah kepada hubungan pra-nikah yang lebih intim dari sekedar media saling mengenal. Sepasang kekasih bisa dikategorikan sedang berpacaran, sekurang-kurangnya apabila keduanya pernah bergandengan tangan. Dengan demikian, tidak berlebihan kiranya jika istilah pacaran dianggap bid’ah dalam tradisi Islam.

Dipihak lain, sangat tidak tepat jika kata pacaran diidhafah-kan(disandarkan) dengan kata “Islam”. Sebab jika kita mendengar istilah “Pacaran Islami”, maka secara axiomatic (badihi), akan timbul persepsi bahwa Islam telah melegalkan pacaran yang selama ini menjadi momok penghancur generasi muda yang taat beragama. Padahal konsep "Pacaran Islami" justru ditengarai menjadi perangkat untuk merusak jiwa para generasi muda Islam. Sebab secara tidak langsung, mereka akan lebih berani dan terdorong untuk memperluas wilayah pergaulan bebas antar lawan jenis tanpa mengetahui prosedur yang telah ditetapkan oleh syari’at Islam. Akibatnya, akan terjerumus dalam “cinta terlarang”. Bahkan mereka tidak sadar bahwa semua itu sebenarnya merupakan virus yang dikemas dalam bungkus agama. Tentunya kita masih ingat dengan acara Take me out yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dalam acara tersebut, kita jumpai istilah “Ustadz Cinta”, sebuah istilah baru yang secara esensial sulit untuk kita definisikan. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah tersebut. Sangat tidak logis jika kata “Ustadz” disandarkan pada kata “Cinta”. Sebab konotasi kata “ustadz” adalah seorang guru ngaji. Dan masih banyak lagi istilah-istilah baru yang tidak pernah ditemukan dalam tradisi Islam, bahkan terkesan ingin menghancurkan budaya Islam. Hal ini sesuai dengan pernyataan sahabat Ali Radhiyallahu ‘anhu:
كلمة حق اريد بها باطل
Pernyataan tersebut merupakan bantahan atas semboyan لا حكم الا لله yang diusung oleh kaum Khawarij karena ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan sahabat Ali yang menerima arbitrase (tahkim). Semboyan tersebut memang benar, namun ditafsirkan lain oleh mereka.
Dalam konteks ini, Islam telah mengenalkan prosedur yang sangat indah dan proporsional yang mengatur hubungan antara lawan jenis, yaitu konsep khitbah.

Khitbah, Solusi Berpahala

Pernikahan dapat terjalin dengan penuh rasa kepercayaan bila didasari pengetahuan akan karakter masing-masing dari dua sejoli. Pernikahan dalam Islam bukanlah sekedar tempat berlabuh hasrat seksual, tetapi merupakan peristiwa sakral yang menyatukan antara sepasang manusia dalam satu bahtera rumah tangga yang bertanggung jawab, hak dan kewajiban bersama untuk membina dan mengarungi mahligai cinta menyambung estafet kehidupan, sebagaimana yang telah dianjurkan oleh baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Agar nilai sakralitas sebuah pernikahan tetap terjaga, maka posisi khitbah sangat urgen untuk menjembatani kemungkinan kekecewaan kedua belah pihak sebelum ikrar nikah. Lantaran proporsi fundamental khitbah hanya sebagai media ta’aruf (saling mengenal), maka legalitas kedekatan hubungan ini sangat terbatas.

Para ulama sepakat bahwa khithbah sebelum nikah hukumnya diperbolehkan. Namun mereka berbeda pendapat apakah khithbah hukumnya sunah ataukah hanya diperbolehkan saja? Pendapat yang kuat dari kalangan Syafi’iyah mengatakan bahwa khithbah hukumnya sunah. Mereka beralasan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah melamar (Khitbah) Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar ibn khaththab. Sementara mayoritas ulama mengatakan boleh, tidak disunahkan.

Para fuqaha sepakat bahwa seorang pria yang bertujuan untuk menikahi seorang wanita diperkenankan terlebih dahulu melihatnya meskipun pihak wanita tidak memberi izin. Ibn Qudamah mengatakan: “Saya tidak mengetahui para ulama berbeda pendapat tentang diperbolehkan melihat perempuan bagi seseorang yang hendak menikahinya”. Mayoritas ulama (Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan sebagian Hanabilah), mengatakan bahwa hukum melihat tersebut adalah sunah, berdasarkan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam:
اُنْظُرْ إِلَيْهَا ، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يَدُوم بَيْنكُمَا المَوَدَّةُ وَالأُلْفَةُ
“Lihatlah dia, karena hal itu lebih layak melestarikan rasa cinta dan sayang diantara kalian berdua” (HR. Ibn Hibban.

Sebaliknya, seorang perempuan juga dianjurkan untuk melihat calon suami sebagai pendamping hidupnya. Bahkan terkait dengan persoalan ini, Ibn Abidin mengatakan seorang wanita lebih berhak dari pada laki-laki, sebab bagi seorang laki-laki mempunyai peluang besar untuk meninggalkan wanita yang tidak dicintainya, berbeda halnya dengan seorang perempuan, ia akan kesulitan untuk mencari pengganti yang lebih ideal ketika menemukan ketidakserasian dalam diri sang suami.
Hukum diperbolehkan melihat di atas, dalam pandangan mayoritas ulama, hanya dikhususkan bagi orang yang mengetahui secara pasti atau minimal punya dugaan kuat lamarannya akan diterima. Sehingga apabila peluang cintanya ditolak lebih besar dari pada diterima, maka ia dilarang untuk melihat calon pendamping hidupnya.

Menurut mayoritas ulama, dalam proses seleksi karakter calon pendamping, seseorang hanya diperbolehkan melihat wajah dan telapak tangan (dhohir dan bathin) meskipun khawatir akan menimbulkan fitnah atau syahwat. Hal ini juga dapat dilakukan hingga berulang kali –tiga kali atau lebih- sampai yakin dan menemukan karakter calon pendamping yang ideal selama tetap menjaga aturan-aturan syara’, seperti tidak terjadi khalwah dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, sebagian ulama Hanafiyah dan Hanabilah mengatakan bahwa bagian tubuh perempuan yang boleh dilihat pada saat khitbah tidak terbatas pada wajah dan kedua telapak tangan saja. Toleransi ini, dalam pandangan mereka, lebih luas hingga pada bagian-bagian yang menurut umumnya terlihat, seperti wajah, telapak tangan, leher, telapak kaki, kepala dan betis. Mereka beralasan, karena ada kebutuhan dan hadits yang menegaskan tentang diperbolehkan melihat wajah adalah bersifat mutlak. Abu Dawud ad-Dhahiri mengatakan bahwa calon suami diperbolehkan melihat seluruh anggota badan. Namun pendapat Ini adalah pendapat munkar dan syadz (keluar dari ketentuan syariat), sebab akan menimbulkan fitnah.

Penjajakan karakter pasangan juga dapat dilakukan dengan cara mengutus seorang perempuan atau laki-laki yang halal melihatnya, untuk selalu meneliti perihal perempuan yang hendak ia nikahi. Atau juga dapat dilakukan dengan cara konsultasi dengan orang yang lebih mengetahui perihal calon pendamping hidupnya. Bagi pihak yang dimintai konsultasi wajib untuk membeberkan semua keburukan-keburukan yang tidak dapat ditolelir. Membuka aib dalam konteks ini bukanlah sebuah larangan selama ada niat untuk saling memberi nasehat antar sesama, bukan dalam rangka menyakiti perasaan orang lain.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam telah mengatur hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta bukan dengan hubungan tanpa batas, atau diistilahkan dengan “Pacaran Islami” yang hanya dimulai dengan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah, namun hubungan yang dibingkai dengan nilai-nilai luhur dan dihiasi dengan fitrah keindahahan.

PDKT Via Sms, Facebook serta Sosial Media Sejenisnya

Sebagai muslim sejati yang komitmen dan patuh dengan ajaran agama, tidak jarang ujian dan kendala datang menghambat dan menghadang jalan suluknya kepada sang ilahi Rabbi. Tak ketinggalan generasi muda penerus perjuangan bangsa dengan segala perbedaan latarbelakang pendidikanya juga harus berpegang teguh dan tahan banting menghadapi beragam godaan syeitan. Secara psikologis, generasi muda lebih suka hidup berfoya-foya dan menyalurkan hasrat seksual dengan cara apapun.
Belum lama ini, kita diingatkan dengan tragedi heboh “Sms Zina” dan pengaruh buruk facebook yang melanda muda-mudi negara tercinta. Tidak sedikit gadis-gadis yang tidak berdosa menjadi korban keganasan laki-laki hidung belang (bejat). Penculikan, pencabulan dan pemerkosaan gadis di bawah umur sempat menjadi tranding topic salah satu media masa. Ironisnya, perbuatan yang melanggar norma agama ini, baik dilakukan atas dasar suka sama suka atau karena dipaksa, terjadi akibat beberapa baris kalimat yang ditulis dalam sebuah pesan singkat
.

Sungguh benar kata pepatah “memandang (pandangan), lalu tersenyum, lantas mengucapkan salam, kemudian bercakap-cakap, berjanji dan akhirnya bertemu”.
Diakui atau tidak, interaksi antar lawan jenis melalui media apapun sangat berbahaya, lebih-lebih bagi orang yang lemah imannya dan dangkal wawasan keilmuannya. Meningkatnya prosentase pergaulan bebas, kenakalan remaja dan degradasi moral timbul akibat kurangnya pengetahuan tentang norma-norma agama.

Dalam rangka meraih kesuksesan PDKT, tidak jarang para mania sms dan facebooker sejati melakukan obral janji, tebar pesona, dan mengeluarkan jurus “rayuan gombal”. Lebih-lebih jika isi tulisannya memancing dan membangkitkan nafsu birahi. Hobi mereka adalah menggoda, mempermainkan dan menyakiti perasaan wanita. Bahkan sebagian dari mereka ada juga yang berperan sebagai playboy gadungan yang tidak bertanggung jawab karena memilki semboyan “habis manis sepah dibuang”.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam karyanya Fath al-Bari (Syarh Sahih al-Bukhari) mengatakan bahwa berbicara dengan wanita diperbolehkan hanya dalam kondisi dharurat saja. Di dalam Is’ad al-Rafiq disebutkan “Salah satu diantara berbagai macam maksiat adalah melakukan sesuatu yang dapat berpotensi menimbulkan keharaman”. Al-Ghazali dalam Ihya’-nya mengatakan melakukan sesuatu yang menurut umumnya (ada dugaan kuat) menimbulkan kemaksiatan adalah maksiat. Menurutnya, sebuah maksiat tidak harus wujud secara real.

Demikianlah gambaran dampak negatif PDKT dan pergaulan lawan jenis yang melanggar norma syari’at. Bermula dari situ ada salah satu forum bahtsul masail yang memutuskan bahwa PDKT via sms, facebook dan lain sebaginya tidak diperbolehkan karena dapat menimbulkan hal-hal negatif. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Referensi:
·      Hasyiah AL-Jamal vol. IV hlm. 120
·      Fath al-Mu’in vol III hlm 298-299
·      Al-Fiqh al-Islami vol. IX hlm 6507
·      I’anah al-Tholibin vol. III hlm 299
·      Hasyiah Al-Bajuri vol. II hlm 101
·      Tafsir al-Qurthubi vol. XVI hlm. 340-341
·      Ihya’ Ulum al-Din vol. II hlm. 160
·      Is’ad al-Rafiq vol. II hlm. 93
·      Fath al-Bari vol. I hlm 238


Wahai Generasi Online, Angkat Kepala Anda Demi Dunia yang Lebih Indah!

Rabu, 15 Oktober 2014


Sekarang semua orang bisa membeli gadget. Banyak di antara kita yang hidup di antara dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Semua berkat tablet, ponsel, komputer dan semua gadget canggih yang kita miliki.

"I fear the day technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots." - Albert Einstein

Apa yang ditakutkan Einstein mulai terjadi. Benda kecil, ramping, tipis dan canggih itu sebenarnya mulai 'mengendalikan' kehidupan pemiliknya. Kalau dulu kita lebih banyak melakukan, kini kita mulai banyak bicara dalam tulisan.

Sebenarnya kita bisa memahami perasaan lewat tatapan, kini kita hanya menangkap dari apa yang kita dengarkan. Sebagian besar generasi online mengalaminya. Oleh karena itu, coba angkat kepala Anda.
Video di atas menunjukkan mengapa Anda perlu mengangkat kepala dan melihat lebih banyak, mengalami lebih banyak. Sebagian besar generasi gadget menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri. Kita punya banyak teman online, tapi kita sebenarnya saling menyendiri.

Coba angkat kepala Anda dan lihat siapa yang sedang bicara dengan Anda. Letakkan gadget Anda dan lakukan lebih banyak hal di luar sana. Sisihkan sebentar gadget Anda dan temukan orang baru yang bisa Anda ajak berinteraksi sesungguh-sungguhnya.

Ini bukan sebuah ajakan untuk membenci teknologi. Hanya saja, Anda bisa lebih bijak menggunakan waktu dan teknologi yang Anda miliki. 

"Jangan terpaku pada gadget Anda. Tidakkah Anda merasa kurang dihargai saat sedang bicara berdua atau dalam forum, tapi orang lain sibuk dengan gadget mereka?"





Sumber :

vemale
 
Powered by Telu Wolu 38

Most Reading

Jadwal Waktu Sholat